Usai melaksanakan ibadah ramadhan seluruh umat Islam merayakan hari kemenangannya dengan melaksanakaan hari raya idul fitri. Bagi umat Islam idul fitri merupakan sebuah proses menuju manusia yang fitri atau suci, karena selama satu bulan penuh yaitu selama bulan ramadhan umat Islam dilatih untuk menjadi manusia yang jauh dari prilaku-prilaku yang merusak hakikat kemanusiaan itu sendiri dengan membangun model dan tatanan kehidupan yang lebih manusiawi. Dalam momentum itu manusia diajarkan akan arti kejujuran (lahir dan batin), sikap keterbukaaan, sikap empati, sikap keprihatinan antar sesama, dan sikap saling tolong menolong. Nilai-nilai dan semangat inilah yang mendorong kepribadian setiap muslim terlahir menjadi manusia yang fitri.
Bicara menyangkut nilai-nilai kemanusiaan yang diuraikan ini, tentu saja sangat bertolak belakang jika kita menoleh ke dalam prilaku dan kehidupan berpolitik dan kebangsaan kita belakangan ini. Dalam berpolitik misalnya, nilai-nilai kejujuran menjadi barang yang langka ditemukan di negeri ini. Bahkan kejujuran begitu mudah digadaikan demi sebuah perolehan materi dan kekuasaan sesaat. Sehingga bagi orang yang jauh dengan nilai-nilai kejujuran, dengan mudah dan tanpa berdosa untuk mengkhianati kepercayaaan rakyat yang diberikan kepada mereka dengan melakukan berbagai praktek korupsi di negeri ini. Di depan rakyat mereka berkata berjuang demi rakyat, namun prilaku mereka dibelakang berbuat untuk memenuhi hasrat kekuasaan dan meteri semata dengan merugikan kepentingan dan merampas hak-hak rakyat.
Bahkan dalam dunia politik yang jauh dari nilai-nilai kejujuran, dengan mudah menggadaikan agama sebagai bungkus dari kekotoran dan kepicikan prilaku seseorang, yang sepintas orang memandang serba elok dan manis, akan tetapi kadang kala di dalamnya tidak luput dari basa-basi. Dalam bahasa lain dapat kita sebutkan bahwa prilaku politik yang jauh dari nilai-nilai kejujuran, maka orang tidak akan segan-segan menjadikan agama sebagai kedok untuk meraih ataupun mempertahankan sebuah kekuasaannya, bukti tentang kondisi yang demikian tentu saja sangat banyak untuk diungkapkan di republic ini.
Disamping itu, dalam meraih dan mempertahakan tampuk kekuasaan, prilaku asut, fitnah dan prasangka begitu mudah menjadi kebiasaan bagi sebagian politisi kita. Sehingga dari waktu ke waktu seakan-akan sejarah prilaku politik bangsa ini selalu mempertontonkan tabiat-tabiat yang negative. Pepatah “menohok kawan seiring, menikam dalam lipatan” menjadi hal yang biasa dilakukan demi menjatuhkan lawan politik dan mencapai tampuk kekuasaan. Bahkan demi mencapai ambisi dan nafsu kekuasaan, logika massa yang orinil dan bersih pun dengan mudah diplintir agar mereka (massa) melibatkan diri dalam konflik antar sesama anak bangsa demi kepentingan segelintir elit. Sehingga rasa kebersamaan, persaudaraan dan saling menghargai sesama anak bangsa menjadi tumpul akibat hilangnya nilai-nilai moralitas tersebut.
Negara bangsa yang berdaulat, mandiri, bersatu dan berbudaya sebagaimana yang dirancang oleh para founding father kita dahulu, kini dikoyak-koyak dan diruntuhkan oleh segelintir manusia demi memenuhi hasrat kerakusan akan materi dan kepentingan sesaat. Asset-aset bangsa digadaikan, candu berhutang terus dilakukan, hak-hak rakyat dikerdilkan, dan nilai-nilai moralitas dipinggirkan. Begitulah kilas balik jika kita meneropong potret kehidupan berpolitik maupun bernegara kita belakangan ini. Semua prilaku tersebut tentu saja bentuk prilaku yang amat jauh dan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai serta semangat fitri yang mendorong manusia untuk berprilaku jujur, amanah, saling membantu, saling menghargai dan saling berempati antar sesama anak bangsa.
Oleh karena itu, ramadhan dan idul fitri yang telah dijalankan oleh umat Islam selayaknya mampu menuntun kehidupan kita dalam berpolitik maupun bernegara ke depan yang lebih menampilkan nilai-nilai dan semangat yang terkandung di dalam ajaran tersebut. Apalagi saat sekarang hingga 2009 nanti, bangsa kita akan disibukkan dengan aktivitas politik melalui momentum pemilihan umum. Tentu saja sebagaimana biasanya yang juga sudah amat sering dipertontonkan kepada public, momentum pemilu selalu menjadi ajang bagi setiap orang untuk melakukan berbagai cara demi memudahkan tercapainya tujuan dan kepentingan politik seseorang. Baik itu prilaku kebohongan, penyuapan atau money politik, terror, kekerasan, fitnah dan segala bentuk prilaku yang pada dasarnya menciderai akan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Tentu melalui nilai-nilai fitri tersebut, bagaimana anak bangsa di negeri ini terutama para politisi maupun para pejabat negara mampu mengembalikan konsep ideal politik hingga praktek politik di negeri ini menjadi sesuatu yang tidak lagi menakutkan dan berkonotasi negative dimata sebagian public. Sebab harus kita akui, jika sebagian besar public masih menilai bahwa politik adalah sesuatu yang kotor dan kejam. Karena memang demikianlah prilaku maupun praktek kita berpolitik selama ini yang dipertontonkan dihadapan public. Walaupun sebenarnya berpolitik itu indah dan menjadi sebuah keniscayaan, namun karena apa yang menjadi konsep yang seharusnya (das sein) berbeda dengan apa yang menjadi kenyataaannya (das solen), membuat logika public menjadikan politik sebagai praktek yang negatif.
Politik sebagai art of impossible dan cara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sudah semestinya kembali ditampilkan oleh para politisi dan warga republic ini melalui semangat idul fitri yang baru saja dijalankan oleh seluruh umat Islam. Karena politik pada dasarnya bukanlah tujuan, melainkan sebuah cara yang hendak mencapai kemakmuran bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu sudah saatnya ke depan dengan nilai-nilai fitri tersebut mampu mendorong kita untuk membangun kehidupan dan prilaku politik Indonesia ke depan yang bernurani, politik yang bermakna, politik yang berintelegensia, politik yang substansial dan politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sebab dengan cara yang demikianlah bangsa kita yang karut marut ini bisa bangkit, mandiri dan berdaulat sebagai bangsa yang besar.
Jika kita gagal untuk mewujudkan nilai-nilai fitri tersebut dalam kehidupan politik kebangsaan kita ke depan, maka menunjukkan bahwa seseorang gagal dalam mentransformasikan prilaku politiknya dengan ajaran dan nilai-nilai idul fitri yang telah dijalankan. Maka meminjam pendapatnya Ali Syar’ati, ajaran agama bagi umat Islam dalam konteks ini tidak ubahnya sebagai “mukena” yang digunakan pada waktu tertentu saja dan dilepaskan pada waktu yang lainnya. Akan tetapi kita tetap optimis bahwa hari mendatang akan jauh lebih baik dari hari kemarin, jika semua kita memiliki komitmen yang sama akan pentingnya sebuah moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan dalam membangun peradaban bangsa ini.

